Monday 24 August 2015

Menguping pembicaraan orang lain tak selalu salah…!

Setiap kali suami harus keluar kota, saya terpaksa meninggalkan sejenak kursi permaisuri di mobil. Memang sih, mulai dari berkantor di kawasan Jalan MH Thamrin lalu ke Kebayoran Baru, tidak lebih dari empat kali suami mengantar saya hingga ke kantor sebab lokasi kantor kami berlawanan arah. Pun begitu saya berkantor di wilayah Rawa Buaya, saya akan turun di pertengahan jalan dan melanjutkan perjalanan yang kira-kira hanya memakan waktu sekitar 15 menit sampai di kantor dengan angkot atau taksi.

Tidak punya cukup nyali untuk mengemudi jarak jauh, saya pun lebih memilih menjadikan taksi atau angkot sebagai kendaraan menuju ke kantor apabila suami di luar kota, dan membiarkan si hitam ‘beristirahat’ di dalam garasi rumah.
Saya membawa majalah atau novel sebagai teman perjalanan. Tak jarang, saya ‘tidur ayam’ di bangku taksi dengan earphone dari pemutar musik yang menempel di telinga, atau memandang ke arah kanan-kiri jalan, menikmati apapun yang saya lihat. Suatu hari ketika suami sedang berada di luar kota, saya bangun kesiangan, berangkat buru-buru hingga bacaan tertinggal. Akhirnya saya mengeluarkan ponsel –biasanya ponsel akan tetap berada di dalam tas apabila saya sedang berada di dalam angkot—untuk memainkan game supaya perjalanan ke kantor tidak membosankan.

“Hari Senin tuh selalu nggak semangat kerja, ya. Soalnya weekend pasti keluar rumah, sih. Kemarin aja,full Sabtu Minggu aku ke nikahan saudara,” saya dengar perempuan muda yang duduk di hadapan saya bercerita ke perempuan sebaya di sebelahnya. Jari saya terus memainkan game di ponsel, namun telinga tak bisa dilarang untuk mendengar celotehan berikutnya.
“Lo abis sarapan apa, kok ada bekas minyak-minyak gitu di baju lo?”
“Ahh, bukan! Memang sudah berbekas gini. Padahal sudah direndam dengan deterjen antilemak, lho. Tetap nggak hilang! Hitam pula baju aku, kelihatan banget ya?”
“Ehh, kalau baju kena cipratan minyak jangan langsung direndam atau dicuci. Percuma! Taburi bedak baby atau sagu di atas noda minyak, diamkan kira-kira 5 menit, baru cuci seperti biasa. Pasti hilang tuh bekas minyak.”
“Ooo… baiklah, thanks ya. Be te we, lo lihat nggak status BBM Clara? Gigi bungsunya numbuh, harus operasi kecil untuk pencabutan karena sakit banget. Mungkin hari ini nggak masuk kantor.”
“Syukurlah. Kualat dia sama aku. Jumat kan aku tegur karena lagi-lagi berisik. Sepanjang hari ngobrol doang. Rasain deh giginya sakit dan nggak masuk. Semoga lama absennya. Lumayan lah kantor rada tenang kalau dia nggak ada.”
Wew… gumam saya dalam hati dengar sumpah-serapah itu.

Celotehan karena beda pendapat masih terus terdengar. Pun ketika subyek yang menjadi topik pembicaraan sudah berganti. Laki-laki muda di sebelah mereka pasti tidak mendengar obrolan santai itu, sebab earphone menempel di telinga, dengan mata tertuju pada ponsel di tangan.

Saya turun untuk berganti angkot. Duduk sebentar, tanpa diperintah radar di telinga mengarah pada seorang perempuan di sebelah kiri saya. Lewat sudut mata saya, terlihat ia memakai sunglasses dan kepala disandarkan pada jendela belakang. Jam tangan di tangan kanannya menarik perhatian saya. Hmm… merek ternama dengan warna merah pada tali kulit. Sudah lama saya tertarik, tetapi harganya masih jadi bahan pertimbangan. Uang masuk Michael ke TK saja, cukup menguras isi tabungan. Biarlah, kemewahan jam tangan itu hanya bisa saya nikmati lewat gambar iklan pada majalah, pikir saya.

Telinga kiri saya kini terpaut pada curhat perempuan itu via ponsel kepada ibunya. Dalam bahasa Indonesia diselingi bahasa Inggris, saya dengar permasalah rumah tangganya. Si perempuan muda itu menolak keras dimadu suami dan memilih bercerai meski suaminya mengancam akan mengambil alih semua fasilitas yang selama ini tersedia untuknya dan dua anaknya. Saya tersenyum kecut karena mendengar persis kalimat demi kalimat yang dituturkan perempuan itu. Selera saya pada game di ponsel hilang. Hati rasanya ikut sedih tetapi tak bisa urun saran, hanya bisa mendengar, sambil berharap adanya penyelesaian dari kasus itu.

Memasuki kawasan Jalan Bojong Raya, saya turun dari angkot yang saya tumpangi. Seketika tersadar dengan apa yang baru saja mengisi kepala ini. Dalam hati saya bergumam, kadang memang perlu mendengar obrolan orang di sekitar. Dengan begitu, saya bisa memberitahu si mpok di rumah agar memakai bedak bayi atau sagu untuk menghilangkan lemak atau minyak di baju.
Saya juga bisa paham mengapa seorang istri memilih bercerai daripada jadi korban poligami. Saya pun harus belajar untuk tidak mencoba menjadi hakim atas tindakan yang dilakukan orang lain yang mengganggu kenyamanan kerja saya, hingga mengeluarkan sumpah serapah atas orang lain.

Tak kalah penting, ‘dunia’ saya di pagi hari tidak hanya sebatas lagu-lagu favorit di dalam pemutar musik yang sebetulnya justru membahayakan keselamatan diri, karena menjadi tidak peka terhadap sekitar saya akibat pendengaran tertutup oleh earphone. Atau dibatasi oleh berita seputar lifestyle di majalah dan kisah menarik di novel yang masih bisa saya baca di waktu senggang berikutnya. ‘Dunia’ saya begitu luas. Pengalaman orang lain dapat menjadi pembelajaran berharga buat saya. Tidak perlu ikut campur atau mengernyitkan kening saat tidak setuju atas apa yang didengar. Cukup mendengarkan.

Dan pagi itu, tanpa pemutar musik, majalah, dan novel, hidup saya jadi lebih kaya.

Content Team
Divisi Art
1 Comments

Leave a reply

<< Back
Copyright © 2013. PALOMA - All Rights Reserved.